Cara Mengelola Fatigue di Area Kerja

Pengelolaan Fatigue – Fatigue merupakan hal yang sangat penting untuk dikelola, data statistik menunjukkan bahwa kecelakaan yang disebabkan oleh fatigue cukup tinggi.

Beberapa kecelakaan mengakibatkan kerusakan harta benda, cidera pada pekerja, dan bahkan sampai kehilangan nyawa.

Dengan besarnya dampak yang ditimbulkan, maka fatigue harus dikelola dengan tujuan untuk menekan tingkat kecelakaan dan kerugian akibat kecelakaan.

Manajemen risiko fatigue dapat dilakukan untuk membuat kebijakan yang mengatur tentang fatigue dan membangun kesadaran pekerja terhadap bahaya fatigue. Perencanaan manajemen fatigue harus dilakukan apabila suatu kegiatan operasional mencakup:

  1. Tidak hanya dilakukan pada siang hari
  2. Lebih dari 48 jam dalam seminggu, termasuk lembur, keadaan emergensi, dan lain-lain.
  3. Tidak memiliki 2 hari libur selama 7 hari (seminggu)

Perencanaan manajemen fatigue juga harus dilakukan apabila bahaya Fatigue teridentifikasi pada risk assessment (HIRA/IBPR).

Apa yang harus dicover dalam manajemen fatigue?

Perencanaan manajemen fatigue harus mencakup level manajemen, staff, dan kontraktor, yang bekerja sesuai dengan waktu yang ditetapkan (roster) maupun pekerjaan yang tidak terencana seperti lembur, on call duty, dan keadaan emergensi yang mengakibatkan pekerja melebihi waktu kerja yang ditentukan.

Bagaimana mengembangkan dan mengimplementasikan manajemen fatigue?

Pada dasarnya pendekatan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan fatigue manajemen plan ini dapat diintegrasikan dengan sistem manajemen yang lain yang ada pada perusahaan tersebut.

Kebijakan dan komunikasi adalah hal utama

Pengembangan dan implementasi manajemen fatigue diawali dengan pembuatan kebijakan yang mengatur tentang risiko fatigue dan membangun prosedur konsultasi. Konsultasi sangat penting dalam mengembangkan perencanaan yang efektif. Bagaimana suatu kebijakan disosialisasikan dan dimengerti oleh setiap pekerja, diatur dalam prosedur konsultasi/komunikasi. Selain itu, ini juga sangat berguna untuk mengidentifikasi peran dan tanggung jawab setiap pekerja dalam mengimplementasikan program perencanaan ini.

Pendekatan manajemen risiko yang terdiri dari identifikasi, penilaian risiko, pengendalian dan evaluasi harus dikembangkan dan diimplementasikan. hal ini akan memerlukan training sebelum program dikembangkan, dan menjadi bagian dari imlementasi.

Perencanaan manajemen fatigue harus didokumentasikan dan diimplementasikan. efektifitas dari semua kontrol harus dipantau dan dievaluasi, dan hasilnya digunakan untuk meninjau perencanaan secara teratur. Tujuannya adalah untuk menghasilkan perencanaan menejemen fatigue, untuk mengimplemantasikan rencana yang ada, dan untuk mengintegrasikan manajemen fatigue dengan sistem manajemen yang sudah ada.

Bagan alur manajemen fatigue

Kesimpulannya bahwa pengembangan dan implementasi program perencanaan manajemen fatigue memerlukan:

  1. Membuat kebijakan perusahaan
  2. Konsultasi dengan pekerja
  3. Menentukan tugas dan tanggung jawab setiap pekerja
  4. Identifikasi bahaya, penilaian risiko, kontrol dan evaluasi
  5. Dokumentasi dari perencanaan
  6. Implementasi
  7. Mengembangkan dan mengimplementasikan prosedur
  8. Review secara berkala dan perbaikan secara terus menerus

Sumber: Fatigue management plan (NSW)

Sumber : www.darmawansaputra.com

About Darmawan Saputra

Saya adalah Seorang Lulusan Teknik Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta, Saat Ini bekerja di Salah Satu Perusahaan Pertambangan Batubara. Saya Lahir Di Salah Satu Daerah Di Kotabumi (Lampung Utara).
View all posts by Darmawan Saputra →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *