Perusahaan Anda Mentoleransi Risiko Fatal ? Mungkin Saja, Coba Pelajari

Manajemen Risiko K3 – Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) atau dalam singkatan lain sering menggunakan HIRADC merupakan salah satu tools yang sangat popular digunakan untuk melakukan pengendalian risiko yang ada dalam aktivitas dari suatu fungsi atau organisasi. Dalam penerapannya IBPR mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh Australian/New Zealand Standard dengan nomor AS/NZS 4360 Tentang Risk Management.

Dalam melakukan Manajemen risiko tentu ada langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga pengelolaan risiko dapat berjalan dengan baik dan risiko yang ada dapat diminimalisir, salah satunya adalah menentukan kriteria risiko.

Tujuan dalam menentukan kriteria risiko adalah untuk mempermudah saat melakukan evaluasi risiko, dalam proses evaluasi risiko akan dibandingkan level risiko yang ditemukan selama proses analisa dengan kriteria risiko yang sudah ditentukan. Sehingga bisa ditentukan mana risiko yang perlu dikendalikan dan mana yang paling prioritas untuk dilakukan pengendalian.

Kriteria risiko didapat dari perkalian variable (dikenal dengan sebutan 2 dimensi dan 3 dimensi) yang menggunakan analisa (Quantitative, semi-quantitative, dan qualitative) atau dalam prakteknya sering disebut dengan Matriks Risiko. Matriks Risiko merupakan tabel yang menunjukkan tingkatan risiko dari hasil perkalian variable-variable penilaian risiko.

Istilah yang digunakan dalam menggambarkan tingkatan risiko pun berbeda-beda antara organisasi satu dengan yang lainnya, seperti AA, A, B dan C, ada juga yang menggunakan istilah Critical,High, Medium, Low. Semua boleh saja yang penting bisa menggambarkan kriteria risiko untuk acuan pengambilan keputusan mana risiko yang perlu diperlakukan lebih lanjut dan mana risiko yang perlu cepat untuk segera dikendalikan.

Ok..saya akan langsung ke pokok pembahasan mengenai “perusahaan Anda mentoleransi risiko fatal”.

Tidak sedikit organisasi atau perusahaan tanpa sadar mentoleransi adanya risiko cidera parah ataupun fatal

Kenapa Bisa Tidak Sengaja Mentoleransi Risiko Fatal ?

seperti yang dibahas di atas, bahwa diperlukan matriks risiko untuk menentukan risiko mana yang perlu perlakuan lebih lanjut dan yang memerlukan pengendalian lebih cepat (priorotas). Selain itu, perusahaan akan menentukan risiko mana yang dapat diterima (acceptable) dan risiko yang tidak dapat diterima (unacceptable).

Nah,,ketidaksengajaan organisasi mentoleransi risiko tinggi atau fatal biasanya ada pada saat menentukan risiko acceptable dan unacceptable ini.

Sebagian perusahaan atau organisasi ada yang menentukan kriteria risiko “Low” saja yang dapat diterima, dan risiko lainnya (medium, high, critical) tidak bisa diterima dan memerlukan pengendalian selanjutnya. Atau ada juga perusahaan atau organisasi yang menentukan kriteria risiko “C” dan “B” yang diterima, sedangkan risiko lainnya ( A, AA) merupakan risiko yang tidak dapat diterima.

Ketidaksengajaan organisasi mentoleransi risiko fatal dikarenakan lupa bahwa kriteria risiko diperoleh dari perkalian variable-variable (Probability dan severity), untuk mempermudah silakan lihat contoh gambar berikut.

Dari Audit yang kami lakukan, beberapa organisasi menggunakan matriks risiko seperti pada gambar di atas dan prosedur manajemen risiko yang ada pada organisasi tersebut menyatakan bahwa risiko yang dapat diterima adalah risko dengan kategori “B” dan “C”.

Untuk kategori risiko “C” saya tidak akan bahas lebih lanjut, nah bagaimana dengan Nilai risiko yang masuk kategori “B” ?

dari gambar terlihat bahwa Nilai risiko dengan kategori “B” (warna abu atau putih) ada 7 jumlahnya, coba kita lihat variable (Kemungkinan dan keparahan) dari masing-masing.

Contoh Matriks Risiko

Ada Perbedaan “Keparahan” Dalam Ketegori Risiko Yang Sama

Saya akan mengambil satu contoh

Nilai risiko (NR) = Likelihood (L) x Severity (S)

NR = 4 x 1 akan berbeda dengan NR = 1 x 4 walaupun keduanya masuk kategori risiko yang sama (B)

Mengapa Demikian ?

NR = 4 x 1, berarti paparannya sering (akan terjadi setiap hari–lihat matriks), namun keparahannya kecil (minor injury)

Bagaimana dengan NR = 1 x 4 ?

ini berarti paparannya jarang (sekali dalam setahun), namun keparahannya sampai Fatality. Jarang terjadi, tapi sekali terjadi langsung fatal.

Bayangkan jika suatu organisasi memasukkan nilai risiko tersebut (NR = 1 x 4) kedalam kategori risiko yang dapat diterima. Itu sama saja mentoleransi risiko fatal di tempat kerja.

Hal ini tidak jarang terjadi di suatu organisasi, silakan lihat matriks risiko masing-masing.

Saran, selain melihat kategori risiko dalam menentukan risiko yang dapat diterima dan tidak dapat diterima sebaiknya memperhatikan juga variable pendukungnya. Jangan sampai tanpa sengaja mentoleransi risiko dengan keparahan tinggi atau bahkan sampai fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *