Kondisi Sebelum Tindakan Tidak Aman Yang Perlu Anda Ketahui

Keselamatan Kerja – Sebagian besar praktisi dan akademisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempercayai bahwa 88 % dari penyebab kecelakaan adalah Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act), namun pernahkah kita mendapatkan penyebab yang benar-benar melatarbelakangi tindakan itu..?

Pemeriksaan kecelakaan memang memberikan tantangan tersendiri bagi para investigator, mengambil kesimpulan dari runutan kejadian bukanlah hal mudah dan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Jika gagal menyimpulkan penyebabnya, maka akan gagal memberikan rekomendasi.

Misal, dari hasil penyelidikan kecelakaan didapatkan bahwa pelaku melanggar prosedur atau aturan, hal ini tentu tidak bisa langsung menjadi dasar bagi seorang investigator untuk memberikan rekomendasi. Perlu analisa yang lebih dalam lagi sampai menemukan hal apa yang menyebabkan orang tersebut melanggar aturan.

“Hanya fokus kepada tindakan tidak aman yang terlihat bisa diibaratkan seperti mengalami penyakit demam yang tidak tahu penyebabnya, salah mendiagnosa akan salah dalam memberikan obat.

Bagaimanapun juga, Bahwa tidak ada kecelakaan yang disebabkan oleh penyebab tunggal, baik kecelakaan yang melibatkan orang banyak maupun kecelakaan tunggal (Heinrich, Peterson, dan Rose, 1980)

Pekerja yang melakukan pelanggaran (tindakan tidak aman) selalu ada faktor lain yang mendorongnya untuk melakukan hal itu, inilah tugas berat seorang investigator kecelakaan. Berikut 2 kondisi yang menyebabkan tindakan tidak aman.

Precondition Of Unsafe Act

 

Dari bagan di atas dapat diketahui bahwa Tindakan tidak aman yang dilakukan dilatar belakangi oleh 2 faktor, yaitu Kondisi Operator Yang Tidak Standar dan Praktek Yang Tidak Standar Yang Mereka Lakukan.

Kondisi Operator Yang Tidak Standar (Substandard Conditions Of Operators)

Kondisi operator juga dapat mempengaruhi apa yang akan dilakukan, diantaranya Keadaan mental yang buruk, Kondisi Fisiologis yang buruk, dan Ketidakmampuan Fisik / Mental.

Keadaan Mental Yang Buruk (Adverse Mental States)

Kondisi mental seseorang akan sangat berdampak pada tindakan yang dilakukan, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum bekerja cukup penting termasuk di dalamnya mempersiapkan mental. Dengan demikian, Kategori Adverse Mental States ini dibuat untuk memperhitungkan kondisi mental yang mempengaruhi kinerja. Sebagai contoh diantaranya hilangnya kesadaran sesaat, kelelahan mental akibat kurang istirahat atau penyebab stress lainnya.

Selain itu, yang tidak kalah bahaya dari kondisi mental yang buruk adalah terlalu percaya diri, berpuas diri, dan juga motivasi yang salah.

Seperti kita ketahui bersama bahwa ketika seseorang dalam kondisi mental yang lelah (dengan alasan apapun) akan meningkatkan peluang melakukan kesalahan

Kondisi Fisiologis Yang Buruk (Adverse Physiological States)

Kondisi fisiologis berkaitan erat dengan kondisi medis seseorang yang dapat menyebabkan penurunan kinerja. Gangguan kesehatan pada operator dapat mengakibatkan meningkatnya peluang melakukan kesalahan, seperti halnya seseorang yang mengalami flu. Kondisi ini akan menurunkan kewaspadaan operator, dan diperburuk lagi jika operator tersebut mengkonsumsi obat-obatan.

Oleh karena itu, penting sekali untuk menjelaskan kepada pekerja tentang kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan menurunnya kinerja.

Ketidakmampuan Fisik atau Mental (Physical/Mental Limitations)

Setiap manusia diciptakan berbeda-beda satu dengan yang lainnya baik dari segi fisik maupun kemampuannya. Dalam hal ini, faktor ini jug aperlu diperhatikan ketika menyimpulkan tindakan tidak aman. Ada orang-orang tertentu yang memang secara fisik tidak mampu melakukan pekerjaan tertetu. Sebagai contoh seseorang yang buta warna akan mengalami kesulitan ketika harus dihadapkan dengan warna-warna tertentu.

Contoh lain adalah orang yang tidak mampu melihat jelas di malam hari (rabun senja), akan meningkatkan peluang terjadinya kesalahan jika diminta kerja malam.

itu adalah salah satu contoh ketidak mampuan fisik yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman, termasuk di dalamnya juga adalah kurangnya kecerdasan, lambat bereaksi, dan kondisi fisik lain yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaan.

Praktik Tidak Standar (Substandard Practice of Operators)

Kategori ini dibagi menjadi 2 sub bagian yaitu Salahnya pengaturan pekerja dan Kesiapan pribadi

Pengelolaan Pekerja Yang Salah (Crew Resource Mismanagement)

Komunikasi yang baik merupakan satu keharusan dalam suatu organisasi atau perusahaan, hal ini akan sangat berdampak pada kelancaran operasional. Informasi yang dibutuhkan dalam pekerjaan disampaikan dengan baik dan dapat diterima dengan baik.

Namun sayangnya tidak semua orang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sehingga informasi tidak sampai dengan baik. Tidak mengherankan jika banyak penyimpangan terjadi karena buruknya komunikasi, yang lebih parah sampai mengakibatkan kecelakaan.

Pembagian pekerjaan memegang peranan penting di dalam kelancaran pekerjaan, harus jelas siapa melakukan apa.

Kesiapan Pribadi (Personal Readiness)

Seperti disampaikan di atas sebelumnya bahwa mempersiapkan diri sebelum bekerja merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan pekerja. Namun demikian, masih juga banyak personil yang gagal dalam mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Kegagalan dalam mempersiapkan diri dapat meningkatkan kesalahan selama bekerja, dan bahkan dapat mengakibatkan kecelakaan.

Apakah kegagalan mereka mempersiapkan diri siap bekerja merupakan kesalahan atau tindakan tidak aman?

Jawabannya tidak, karena tidak ada aturan yang mengikat selama mereka di luar jam kerja. Sebagai contoh, ada seorang pekerja joging atau olahraga sebelum berangkat bekerja.

Walaupun ini tidak bertentangan dengan peraturan (perusahaan atau pemerintah) namun ini dapat berdampak terhadap menurunnya kemampuan fisik dan mental yang dapat menurunkan kinerja sehingga menyebabkan tindakan tidak aman.

Itulah beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap timbulnya Tindakan Tidak Aman, faktor-faktor ini tentu tidak bisa dikesampingkan ketika melakukan pemeriksaan kecelakaan. Motif-motif ini lah yang melatar belakangi seseorang melakukan tindakan tidak aman. Perbaikan terhadap kecelakaan harus menyentuh pada faktor pendorong ini.

Referensi:

  • https://www.nifc.gov/
  • http://www.flighttestsafety.org/
  • http://www.coloradofirecamp.com/
About Darmawan Saputra
Saya adalah Seorang Lulusan Teknik Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta, Saat Ini bekerja di Salah Satu Perusahaan Pertambangan Batubara. Saya Lahir Di Salah Satu Daerah Di Kotabumi (Lampung Utara).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*