2015 Berbudaya K3

Published by
Darmawan Saputra

Beberapa tahun ini Indonesia mempunyai program “Menuju Indonesia berbudaya K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tahun 2015”. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi tertentu, namun menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia.

Seperti kita ketahui bersama sampai dengan tahun 2014 ini masih banyak sekali kecelakaan di berbagai bidang usaha yang ada di Indonesia, belum lagi kecelakaan lalu lintas. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.
Namun untuk menuju semua itu kita semua harus mengetahui dengan pasti bahwa Keselamatan itu tergantung pada perilaku setiap orang atau karyawan. Mengembangkan kesadaran K3 pada setiap karyawan tidak cukup dengan satu atau dua kali briefing K3, setumpuk prosedur dan aturan kerja, bahkan tak cukup dengan penggunaan kekuasaan yang berupa ancaman dan hukuman. Kesadaran adalah masalah kepercayaan dan nilai-nilai yang ada dalam kepala, yang merubahnya jauh lebih sulit dari merubah bentuk baja. Bentuk-bentuk pemaksaan bisa merubah apa yang dilakukan, tapi tidak bisa merubah apa yang ada dalam pikiran.
Apakah indonesia bisa mencapai tujuan itu? Jawabannya bisa. Tinggal berapa lama akan tercapainya, apakah 2015, atau 30 tahun lagi,atau beberapa puluh tahun kemudian.
Sekarang kita lihat disekitar tempat tinggal kita tentang perilaku berkendara di jalan raya, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak menggunakan Helm, tidak mau menggunakan sabuk pengaman, tidak mengikuti kecepatan yang dianjurkan pada rambu, menggunakan Hp saat mengemudi. Semakin banyak juga kita lihat di televisi tentang kecelakaan maut yang mengakibatkan kematian banyak orang, yang sebagian pengemudinya adalah anak dibawah umur yang belum mempunyai lisensi untuk mengemudi.
Begitu banyak anak-anak kecil yang sudah mengendarai sepeda motor dengan kebut-kebutan, yang pada dasarnya orang tuanya mengijinkan tanpa memberikan arahan ke anak-anak mereka. Dan sering juga kita jumpai seorang bapak membawa anaknya yang masih kecil mengendarai kendaraan dengan melanggar lalu lintas. Ini adalah sumbangsi besar terhadap ketidaktercapaian budaya K3, karena perilaku melanggar aturan telah didoktrin oleh orang tuanya sejak si anak masih kecil, maka yang ada difikirannya adalah seperti itu cara mengendarai sepeda motor yang benar, dan itu akan terus dibawa sampai dewasa. Semua itu tanpa disadari oleh sebagian orang tua.
Dari contoh kasus itu kita semua bisa menelaah, mungkinkah 2015 bisa tercapai masyarakat berbudaya K3?
Sebaik-baiknya aturan kalau masyarakat sebagai pelakunya tidak mau menjalankan, maka tidak ada gunanya. Seperti saat di pekerjaan jika mengemudi atau menumpang mobil atau sarana jemputan diwajibkan untuk menggunakan sabuk pengaman. Bagi yang mau memakai ini pasti akan menjadi kebiasaan dan terbawa sampai ke kehidupan sehari-hari, jika tidak menggunakan sabuk pengaman akan terasa ada yang kurang dan was-was saat mengendarai mobil. Selain itu juga kewajiban membunyikan klakson pada saat akan mengendarai mobil di tambang (1 kali start engine, 2 kali maju,dan 3 kali mundur), saya pernah ditegur istri pada saat mengendarai mobil di Jogja, pada saat berada di parkiran pusat perbelanjaan saya membunyikan klakson 3 kali saat akan mundur untuk memarkir mobil “emang ini ditambang” dan kami pun tertawa..

Keselamatan itu harus sering dilatih dan perlu kesadaran dari pelakunya,, bagaimana cara melatih kesadaran? untuk awal sepertinya perlu pemaksaan, dipaksa dengan aturan, dan konsistensi dalam penegakan. lambat laun pasti akan tertanam dengan sendirinya jiwa keselamatan.

Dan yang paling penting, ajari dan beri pengertian kepada Anak-anak kita di rumah tentang pentingnya keselamatan.

“Keselamatan itu dimulai dari rumah kita sendiri”
Jabat erat
By: Darmawan Saputra S
Sumber : www.darmawansaputra.com
Darmawan Saputra

Saya adalah Pekerja di Salah Satu Perusahaan Pertambangan Batubara. Saya Lahir Di Salah Satu Daerah Di Kotabumi (Lampung Utara).

Leave a Comment

View Comments

Share
Published by
Darmawan Saputra

Recent Posts

Byford Dolphin Insiden Yang Menegaskan Bahwa “Orang Terbaik Pun Bisa Salah”

human error; human failure; kegagalan manusia; byord dolphin; keselamatan dan kesehatan kerja, kecelakaan kerja, K3…

3 months ago

Akankah Gap Antara Prosedur dan Praktik Kerja Bisa Hilang di Tempat Kerja?

Pemeriksaan Kecelakaan - Kecelakaan Kerja menjadi salah satu risiko yang harus dikendalikan oleh organisasi untuk…

3 months ago

Anda Personil K3 ? Sering Bereaksi Seperti ini Ketika Menghadapi Kecelakaan Kerja

Reaksi Saat Menghadapi Kegagalan - Kita semua pernah mengalami kegagalan atau mengetahui kegagalan orang lain,…

3 months ago

Penilaian Tingkat Pencapaian Kinerja Keselamatan Pertambangan

Kinerja Keselamatan Pertambangan - Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP Minerba) telah dijalankan sejak dikeluarkan Permen…

4 months ago

Masih Memakai Piramida Kecelakaan Heinrich ? Mungkin Anda Perlu Berpikir Ulang Mulai Sekarang

Piramida Kecelakaan - Sebelum masuk ke pembahasan, pertama penulis ingin membuat disclaimer yaitu Heinrich adalah…

1 year ago

Tema Bulan K3 Nasional Tahun 2023

Tema Bulan Nasional K3 Tahun 2023 Tema Bulan K3 Nasional Tahun 2023 - Pemerintah melalui…

1 year ago