Ingin Memulai Membuat SOP, Ini Yang Harus Diperhatikan

Published by
Darmawan Saputra
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Prosedur kerja merupakan dokumen atau tools yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan pekerjaan, namun tidak semua perusahaan sudah memiliki prosedur kerja yang tertulis. Prosedur kerja hanya berdasarkan kebiasaan dan ingatan para pekerja, pekerja senior akan memberikan contoh kepada pekerja-pekerja yang lebih muda. Hal ini tentunya akan sangat berisiko apabila hanya mengandalkan kebiasaan atau ingatan para pekerja saja. Mengingat para pekerja akan semakin menua dan juga loyalitas pekerja satu dan lain tidaklah sama, coba banyangkan jika para pekerja yang mengerti tentang pekerjaan tersebut resign atau pensiun?
Oleh karena itu perlu adanya standar kerja yang tertulis agar semua pekerja memahami pekerjaan, baik pekerja lama maupun pekerja baru, pekerja tua maupun pekerja muda memiliki pemahaman yang sama terkait pekerjaan yang akan dilakukan.
Dalam salah satu Group K3, ada anggota yang mempertanyakan “Bagaimana Cara Menyusun SOP di Perusahaan?”, hal ini karena di perusahaan tempatnya bekerja belum ada SOP terkait K3 sebagai acuan kerja.

Begitu antusiasnya para praktisi K3 membantu menjawab pertanyaan tersebut dan memberikan saran yang sangat bagus-bagus, dan ada satu hal yang menjadi perdebatan adalah “bagaimana menerapkan sistem pada perusahaan yang memiliki modal minim?”. Tentunya hal ini perlu disikapi secara bijak, mengingat sangat pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam suatu industri, namun perlu juga mempertimbangkan kebijakan pengusaha selaku pemilik kebijakan.

Apakah Semua Perusahaan Sudah Menerapkan Sistem Manajemen K3 ?
Tidak semua perusahaan sudah menerapkan sistem manajemen K3 (keselamatan dan kesehatan kerja), masih banyak perusahaan di Indonesia ini yang belum memiliki SOP tertulis, belum memiliki kebijakan tentang K3, atau bahkan belum memiliki identifikasi bahaya pada aktivitas kerjanya.
Sebagian perusahaan akan memilih untuk Mengembangkan Perusahaannya terlebih dahulu, baru memikirkan pengembangan sistem. Hal ini sering terjadi pada Perusahaan yang memiliki modal minim.
Apakah itu salah..? tidak sepenuhnya… Suatu perusahaan yang sudah berkutik dengan sistem pada awal terbentuknya akan mengalami banyak terhambat pekerjaannya karena memikirkan kesempurnaan sistem. Oleh karena itu, Kembangkan perusahaan terlebih dahulu, baru memikirkan sistem. Buatlah prosedur sederhana sebagai acuan kerja awal, setelah itu terus memperbaikinya agar lebih baik.
Tentunya ini tidak berlaku bagi Perusahaan yang padat modal, perusahaan dengan modal besar biasanya dapat langsung menerapkan sistem di perusahaannya.

Terus Bagaimana Langkah-Langkah Agar Memiliki SOP di Area Kerja.?
Untuk langkah awal agar perusahaan bisa memiliki SOP adalah dengan melihat Perusahaan lain yang bidang pekerjaannya sama. Kemudian ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) SOP yang ada pada perusahaan tersebut.
Setelah meniru dari perusahaan lain, perusahaan sudah memiliki acuan kerja. Namun, biasanya jika kita menerapkan ATM dari perusahaan lain yang setipe, akan ada SOP yang menungkin tidak sesuai dengan aktivitas di perusahaan kita. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu ada perbaikan-perbaikan terhadap sistem.
Bagaimana agar tidak ada SOP yang tidak sesuai dengan aktivitas kerja?
Pada awal pekembangan sistem manajemen (ISO, OHSAS, SMK3) penyusunan SOP akan mengacu pada klausul yang dipersyaratkan dalam sistem manajemen K3 tersebut, namun hal tersebut sering mengakibatkan ketidaksesuaian SOP dengan aktivitas yang ada di masing-masing bagian (departemen).
Oleh karena itu, saat ini banyak praktisi K3 dan Pengembang Sistem Manajemen K3 memilah-milah SOP berdasarkan Bussiness Process masing-masing departemen atau bagian. Sehingga SOP yang dibuat berdasarkan aktivitas yang ada di bagian tersebut saja.
Jika disimpulkan bahwa Sistem Manajemen memang diperlukan, namun jika perusahaan belum mampu untuk sampai ke level tersebut maka langkah yang harus dilakukan adalah menyusun standar kerja semampunya sembari terus memperbaiki, hal ini lebih baik dari pada terpaku pada keinginan Sistem manajemen yang tersertifikasi namun selalu terkendala pada suatu hal yang akhirnya tidak pernah berbuat apa-apa untuk perkembangan sistem di perusahaan tersebut. Standar kerja dapat dibuat dalam bentuk JSA (Job Safety analysis), contoh saja perusahaan yang bidang pekerjaannya sama.
“Ingat.. Lebih baik Meniru Untuk Kebaikan, dari pada Tidak Pernah Berbuat Apa-Apa”

Sumber : www.darmawansaputra.com
Darmawan Saputra

Saya adalah Pekerja di Salah Satu Perusahaan Pertambangan Batubara. Saya Lahir Di Salah Satu Daerah Di Kotabumi (Lampung Utara).

Leave a Comment
Share
Published by
Darmawan Saputra

Recent Posts

Komunikasi Kebijakan – Sub Elemen 1.4 SMKP Minerba

Komunikasi kebijakan SMKP Minerba - Artikel kali ini melanjutkan sharing mengenai Sub elemen 1.4 dari…

5 months ago

Byford Dolphin Insiden Yang Menegaskan Bahwa “Orang Terbaik Pun Bisa Salah”

human error; human failure; kegagalan manusia; byord dolphin; keselamatan dan kesehatan kerja, kecelakaan kerja, K3…

8 months ago

Akankah Gap Antara Prosedur dan Praktik Kerja Bisa Hilang di Tempat Kerja?

Pemeriksaan Kecelakaan - Kecelakaan Kerja menjadi salah satu risiko yang harus dikendalikan oleh organisasi untuk…

8 months ago

Anda Personil K3 ? Sering Bereaksi Seperti ini Ketika Menghadapi Kecelakaan Kerja

Reaksi Saat Menghadapi Kegagalan - Kita semua pernah mengalami kegagalan atau mengetahui kegagalan orang lain,…

9 months ago

Penilaian Tingkat Pencapaian Kinerja Keselamatan Pertambangan

Kinerja Keselamatan Pertambangan - Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP Minerba) telah dijalankan sejak dikeluarkan Permen…

10 months ago

Masih Memakai Piramida Kecelakaan Heinrich ? Mungkin Anda Perlu Berpikir Ulang Mulai Sekarang

Piramida Kecelakaan - Sebelum masuk ke pembahasan, pertama penulis ingin membuat disclaimer yaitu Heinrich adalah…

1 year ago